Drone Multirotor atau Fixed-Wing? Panduan Memilih untuk Pemetaan Proyek Luas

Pemetaan udara berbasis drone telah menjadi standar baru dalam pengumpulan data geospasial untuk berbagai industri seperti pertambangan, perkebunan, konstruksi, kehutanan, hingga energi. Dua tipe drone yang paling populer untuk aktivitas ini adalah multirotor dan fixed-wing. Keduanya memiliki karakteristik yang berbeda, sehingga pemilihan jenis drone yang tepat akan menentukan kualitas data, efisiensi waktu, dan biaya operasional.
Artikel ini membahas perbandingan menyeluruh antara drone multirotor dan fixed-wing, mulai dari spesifikasi umum, durasi terbang, resolusi, biaya operasional, hingga studi kasus lapangan. Tujuannya membantu perusahaan dan surveyor menentukan drone terbaik untuk pemetaan skala besar.
Pengantar Singkat
Dalam dunia pemetaan profesional, tiga faktor utama selalu menjadi prioritas:
- Akurasinya harus konsisten dan dapat dipertanggungjawabkan.
- Efisiensi pekerjaan harus tinggi, terutama ketika memetakan area ratusan hingga ribuan hektar.
- Biaya operasional harus masuk akal.
Drone multirotor dan fixed-wing hadir sebagai dua solusi yang populer. Multirotor unggul dalam fleksibilitas dan kemudahan operasi. Sementara itu, fixed-wing menawarkan efisiensi terbang tinggi dan mampu menjangkau area luas dalam satu misi.
Namun, memilih di antara keduanya tidak sesederhana mempertimbangkan bentuk dan durasi terbang. Setiap proyek memiliki karakteristik unik: luas area, tingkat detail yang dibutuhkan, kondisi medan, serta jenis data yang ingin diperoleh.
Untuk memahami perbedaannya, mari membahas spesifikasi umum kedua tipe drone.
Spesifikasi Umum Kedua Tipe Drone
Drone multirotor dan fixed-wing dibangun dengan desain dan sistem aerodinamis yang sangat berbeda. Bagian ini merangkum karakteristik utama yang biasanya menjadi acuan operator ketika menentukan perangkat yang tepat.
1. Drone Multirotor
Drone multirotor menggunakan beberapa rotor (4, 6, atau 8) untuk mengangkat dan mengontrol arah terbang. Struktur ini memberikan stabilitas sangat baik meski berada di ketinggian rendah. Tipe ini paling populer karena penggunaannya sederhana dan fleksibel.
Karakteristik umum multirotor:
- Durasi terbang: 20–45 menit
- Kecepatan jelajah: 5–15 m/s
- Resolusi gambar: sangat tinggi (tergantung kamera)
- Jangkauan area: 20–80 ha per misi
- Kelebihan: hover stabil, mudah diterbangkan, cocok untuk area kecil
- Kekurangan: boros baterai, kurang efisien untuk area luas
2. Drone Fixed-Wing
Fixed-wing menggunakan desain sayap seperti pesawat sehingga dapat meluncur dan terbang jauh dengan konsumsi energi rendah. Tipe ini ideal untuk pemetaan skala besar.
Karakteristik umum fixed-wing:
- Durasi terbang: 60-120 menit
- Kecepatan jelajah: 15-25 m/s
- Resolusi gambar: tinggi (tergantung sensor)
- Jangkauan area: 200-1200 ha per misi
- Kelebihan: efisiensi tinggi, cocok untuk area luas
- Kekurangan: tidak bisa hover, butuh area lepas landas/landing
Kesimpulan spesifikasi
Multirotor unggul untuk pekerjaan detail dan area kecil hingga menengah. Fixed-wing menjadi solusi terbaik saat memetakan wilayah luas dalam waktu singkat.
Namun, perbedaan ini akan lebih jelas lagi jika kita lihat perbandingan parameter teknis utama.
Perbandingan: Durasi Terbang, Resolusi, Biaya
Bagian ini membandingkan kedua tipe drone dari sisi performa, akurasi, efektivitas, serta total biaya yang harus dipersiapkan perusahaan.
1. Perbandingan Durasi Terbang
Durasi terbang adalah salah satu faktor paling menentukan dalam pemetaan skala besar.
| Parameter | Multirotor | Fixed-Wing |
| Durasi terbang rata-rata | 20-45 menit | 60-120 menit |
| Energi | Boros | Efisien |
| Area efektif per misi | 20-80 ha | 200-1200 ha |
Analisis:
Fixed-wing memiliki keunggulan besar karena aerodinamikanya membuat drone tidak perlu melayang di tempat. Energinya digunakan secara efisien untuk meluncur di udara. Hal ini membuat fixed-wing ideal untuk pemetaan ratusan hektar dalam sekali terbang.
2. Perbandingan Resolusi dan Akurasi
Kualitas kamera sering kali sama antara multirotor dan fixed-wing, namun hasil akhirnya bisa berbeda karena perbedaan ketinggian terbang dan stabilitas posisi.
Multirotor:
- Bisa terbang rendah → menghasilkan GSD (Ground Sampling Distance) sangat detail
- Hover stabil → cocok untuk fotogrametri presisi
- Ideal untuk peta skala mikro (konstruksi, volume stockpile)
Fixed-wing:
- Terbang pada ketinggian lebih tinggi → GSD sedikit lebih besar
- Lebih baik untuk pemetaan makro
- Cocok untuk pemetaan wilayah luas seperti tambang, perkebunan, dan hutan
Analisis:
Jika proyek membutuhkan resolusi sangat detail, multirotor lebih unggul.
Jika proyek mencari cakupan luas dengan akurasi optimal, fixed-wing adalah pilihan terbaik.
3. Perbandingan Biaya Operasional
Biaya dapat mencakup:
- waktu kerja tim
- jumlah baterai
- pemrosesan data
- waktu pengolahan di komputer
- risiko kerusakan perangkat
Multirotor:
- Biaya awal lebih murah
- Cocok untuk proyek kecil dan menengah
- Biaya operasional per hektar lebih tinggi
Fixed-wing:
- Biaya pembelian lebih mahal
- Lebih efisien ketika area > 200 ha
- Biaya per hektar jauh lebih rendah dalam pemetaan skala besar
Kesimpulan:
Untuk pemetaan harian dalam area besar, fixed-wing menghemat banyak biaya meski harganya lebih tinggi.
4. Perbandingan Waktu Pengolahan Data
Data dari fixed-wing biasanya lebih banyak karena cakupan luas, namun kemiripan pola terbang membuat pengolahan relatif lebih stabil.
Sebaliknya, multirotor menghasilkan citra lebih detail sehingga proses komputasinya lebih berat.
Multirotor:
- File lebih besar per area kecil
- Cocok untuk modeling 3D detail
- Waktu processing 4–12 jam per 50 ha
Fixed-wing:
- File lebih ringan untuk area besar
- Orthomosaic lebih cepat diproses
- Waktu processing 6-10 jam per 500 ha
Kapan Sebaiknya Pakai Fixed-Wing
Fixed-wing bukan untuk semua situasi. Namun tipe ini menjadi pilihan ideal saat proyek memiliki karakteristik berikut:
1. Area Proyek Lebih dari 200 Hektar
Pemetaan lahan dengan cakupan besar sangat mengutamakan efisiensi. Fixed-wing bisa menyelesaikan area besar hanya dalam satu kali terbang.
Contoh industri:
- Tambang batu bara / nikel
- Perkebunan kelapa sawit, tebu, karet
- Survey kehutanan skala besar
- Pemantauan kawasan konservasi
2. Medan Relatif Terbuka
Fixed-wing membutuhkan ruang lepas landas dan landing. Ketika kondisi lapangan mendukung, fixed-wing jauh lebih efisien.
3. Proyek Membutuhkan Output Makro dengan Kualitas Konsisten
Jika tujuan pemetaan lebih menekankan cakupan luas daripada detil mikro (misalnya 1 cm/pixel), fixed-wing menjadi pilihan terbaik.
4. Waktu Kerja Harus Efisien
Ketika proyek memiliki tenggat waktu ketat misalnya ekspor tambang, audit luas lahan, atau kebutuhan regulasi—fixed-wing sangat membantu menekan durasi operasional.
5. Angin Lapangan Cukup Kencang
Fixed-wing lebih tahan terhadap angin dibanding multirotor.
Studi Kasus Perbandingan Hasil
Untuk menunjukkan perbedaan nyata di lapangan, berikut tiga studi kasus yang menunjukkan bagaimana pemilihan drone memengaruhi efektivitas proyek.
Studi Kasus 1: Pemetaan Tambang 450 Hektar
Tujuan:
Membuat orthomosaic dan model elevasi tambang nikel.
Drone yang diuji:
- Multirotor: DJI Phantom 4 RTK
- Fixed-wing: SenseFly eBee X
Hasil:
| Parameter | Multirotor | Fixed-Wing |
| Durasi total | 8 jam | 2 jam |
| Jumlah baterai | 12 | 3 |
| GSD | 2.6 cm | 3.2 cm |
| Accuracy (GCP) | ±2 cm | ±3–5 cm |
| Total biaya operasional | Lebih tinggi | 45% lebih hemat |
Kesimpulan:
Untuk area 450 ha, fixed-wing menyelesaikan pekerjaan dalam 25% waktu multirotor.
Studi Kasus 2: Pemetaan Proyek Konstruksi 30 Hektar
Tujuan:
Monitoring progres konstruksi gedung dan infrastruktur.
Drone yang diuji:
- Multirotor: DJI Mavic 3 Enterprise
- Fixed-wing: Tidak dipakai (area kecil)
Hasil:
Multirotor menghasilkan model 3D resolusi tinggi dengan detail struktur sangat baik. Fixed-wing tidak digunakan karena luas area terlalu kecil.
Kesimpulan:
Multirotor tetap menjadi pilihan terbaik untuk proyek konstruksi.
Studi Kasus 3: Pemetaan Perkebunan Sawit 1200 Hektar
Drone yang diuji:
- Fixed-wing: Autel Dragonfish
- Multirotor: DJI Matrice 300
Hasil:
- Fixed-wing menyelesaikan seluruh area dalam 1 hari
- Multirotor membutuhkan 3-4 hari
- Fixed-wing memberikan orthomosaic yang cukup untuk manajemen kebun
- Multirotor hanya mampu menyelesaikan sebagian area per hari
Kesimpulan:
Skala besar selalu lebih cocok untuk fixed-wing.
Kesimpulan
Drone multirotor dan fixed-wing memiliki peran berbeda dalam pemetaan. Multirotor unggul dalam fleksibilitas, detail, dan kesederhanaan operasional. Fixed-wing menjadi pilihan utama untuk pemetaan skala besar karena efisiensi waktu, durasi terbang lama, dan cakupan area luas.
Multirotor cocok untuk:
- Pemetaan area kecil dan menengah
- Inspeksi vertikal dan struktur detail
- Proyek konstruksi dan volumetri
Fixed-wing cocok untuk:
- Area luas > 200 ha
- Pemetaan perkebunan, tambang, dan hutan
- Proyek dengan tenggat waktu ketat
Pemilihan drone yang tepat akan menekan biaya, meningkatkan akurasi, dan mempercepat pengambilan data. Perusahaan sebaiknya mempertimbangkan kebutuhan proyek, kondisi lapangan, serta kemampuan operator sebelum menentukan jenis drone yang dipakai.
Ingin meningkatkan akurasi dan efisiensi proyek Anda dengan teknologi drone? Dapatkan panduan lengkap, layanan profesional, dan konsultasi gratis. klik tautan ini untuk melihat jadwal terbaru dan penawaran spesial.
Referensi
- Colomina, I. & Molina, P. (2014). Unmanned Aerial Systems for Photogrammetry. ISPRS Journal.
- Eisenbeiss, H. UAV Photogrammetry. ETH Zurich.
- Pix4D Documentation – Drone Mapping Methods.
- DJI Enterprise Whitepapers – Survey & Mapping Solutions.
- SenseFly (Parrot Group) – eBee X Technical Datasheet.
- USGS – UAS Data Acquisition for Mapping and Monitoring.
- Agisoft Metashape – Aerial Survey Guidelines.